Ajak Masyarakat Berpikir Kreatif

Upaya Zaenal Menyoroti Pendidikan Wirausaha

darikita.com, “Untuk membentuk bangsa yang sejahtera, tentunya harus ada kemauan dari bangsa itu sendiri untuk berubah dan berusaha. Kemauan itu kemudian harus dibarengi dengan tindakan kreatif supaya bisa sukses”.

AMRI RACHMAN D/BANDUNG EKSPRESDISKUSI: Founder Kriez Dr Zaenal Aripin Ir Msi (kanan) berbincang dengan redaktur Harian Umum Bandung Ekspres saat berkunjung kemarin (19/5).

AMRI RACHMAN D/BANDUNG EKSPRESDISKUSI: Founder Kriez Dr Zaenal Aripin Ir Msi (kanan) berbincang dengan redaktur Harian Umum Bandung Ekspres saat berkunjung kemarin (19/5).

Hal tersebut dikatakan founder Kreatif Indonesia Emas (Kriez) Dr Zaenal Aripin Ir Msi saat berkunjung ke kantor Harian Umum Bandung Ekspres, Jalan Soekarno-Hatta, kemarin (19/5). Meski dipaparkan secara santai, beberapa poin penting berhasil muncul. Namun, pembahasan mengerucut pada entrepreneurship.

Dia mengungkapkan, salah satu cara ampuh untuk memajukan bangsa adalah dengan memajukan pendidikan. Dalam sub-subnya, perlu ada pula pendidikan untuk berwirausaha. Pasalnya, suatu negara bisa dikatakan maju jika pertumbuhan unit usaha kecil dan menengah (UMKM)-nya di atas 1,4 persen. Sedangkan, Indonesia masih jauh di bawah angka itu.

’’Makanya kita harus kreatif. Saya selalu tekankan, harus ada pelajaran atau mata kuliah wirausaha. Sekarang udah mulai kan di UPI, namanya Edupreneur,’’ ucap pria yang juga dosen di beberapa universitas ternama ini.

Dia mengaku, sangat concern terhadap kemajuan sektor wirausaha di negeri ini. Didirikannya Kriez pun salah satu tujuannya untuk membantu para pelaku wirausaha ataupun yang ingin berwirausaha, supaya punya bekal ilmu yang berkaitan dengan usahanya. Kriez, jelas Zaenal, difungsikan sebagai forum dan ajang konsultasi, serta tempat bertukar ide.

’’Apalagi akhir 2015 ini kan kita sudah MEA (masyarakat ekonomi ASEAN). Tidak boleh ketinggalan,’’ ujarnya. Dia mengaku, cukup khawatir dengan hal ini. Sebab, bisa jadi lapangan pekerjaan yang tadinya hanya bisa diisi oleh warga Indonesia, nantinya malah diduduki oleh warga-warga yang berasal dari negara ASEAN lain.

Selain itu, dia menyoroti program-program pinjaman modal atau kredit bagi para pelaku usaha. Pasalnya, jumlah yang dipinjamkan seringkali tidak sesuai kemampuan si pengusaha. Artinya, terlampau besar dari omzet yang didapat setiap bulan. Dia mencontohkan, jika seorang pedagang bakso butuh modal Rp 10 juta, maka berilah pinjaman Rp 10 juta. Tidak usah dilebihkan.

’’Kan sekarang pinjaman yang dikasih sampai Rp 50 juta, malah ada yang Rp 100 juta. Itu tidak betul, karena kalau yang dipake hanya Rp 10 juta, sisanya dipakai apa coba? Dibeliin hape, nyicil motor, malah jadi konsumtif,’’ terang mantan Direktur bank bjb ini.

Jika program pinjaman itu tetap digulirkan, sementara nilai bunga terus naik, maka pedagang/ pengusaha akan kesulitan di kemudian hari. Sebab, nilai bunga yang harus dibayarkan ke bank jadi lebih besar daripada nilai omzet. ’’Malah jadi harus nombok,’’ katanya.

Oleh karena itu, setiap bank atau peminjam harus tahu dulu jumlah yang dibutuhkan oleh pengusaha sebelum memberi pinjaman modal. Sehingga tidak bisa disamaratakan. ’’Ini untuk mencegah penyalahgunaan. Karena kalau uang modal pinjaman dipakai untuk beli yang lain-lain kan salah,’’ tuturnya. (tam)